Membentuk Keluarga Ideal

FathulGhofur.com. Satu riwayat dikisahkan seorang ayah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar bin Khattab RA memanggil sang anak, lalu menasehatinya tentang bahaya durhaka kepada orang tua dan bahaya melalaikan hak-hak keduanya.

Keluarga-ideal

Sang anakpun bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak juga memiliki hak dari orang tuanya?”

Umar RA menjawab : “Ya”

Sang anak tersebut bertanya lagi : “Apa saja hak tersebut, wahai Amirul Mukminin ?”.

Umar RA menjawab : ”Memilihkan ibu untuknya, memberinya nama yang bagus, dan mengajarinya Al Qur’an”.

Sang anak kemudian menyampaikan : ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya bapakku tidak melaksanakan satupun kewajiban tersebut, ibuku beragama Majusi, aku diberi nama Ju’al (Kumbang Kelapa), dan aku tidak pernah diajari Al Qur’an. Meskipun satu huruf”.

Baca Juga :
Muslim Wajib Menuntut Ilmu Agama
Surat Umar bin Khattab RA untuk Sungai Nil
Ucapan Selamat Natal & Tahun Baru Masehi Kenapa Harus Diperdebatkan

Kemudian Umar RA menoleh ke arah ayah sang anak tadi, dan berkata : ”Engkau datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah terlebih dahulu mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu, Engkau telah menyakitinya sebelum ia menyakitimu.[1]

Kisah di atas mewakili permasalahan umum dalam satu keluarga terkait hubungan orang tua dan anak. Kualitas komunikasi orang tua–anak saat ini dirasakan keduanya merupakan hasil komunikasi yang dibangun sejak dini.

Ketaatan atau kedurhakaan anak terhadap orangtua tidak terlepas dari bagaimana orang tua membangung jiwa dan karakter anak di usia dini. Pepatah mengatakan “Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya” dengan makna yang sama di negara barat populer dengan kalimat “Like Father like Son” anak sebagaiman ayahnya.

Pada dasarnya tidak ada orang tua yang menginginkan kehidupan anaknya tidak lebih baik dari kehidupan dirinya. Mereka berusaha membantu membangun diri sang anak dengan caranya yang paling baik. Masalahnya adalah cara yang mereka yakini sebagai cara terbaik, ternyata bukan cara terbaik yang hakiki. Lalu bagaimana cara terbaik/hakiki (Benar) dalam membangun jiwa dan karakter anak yang dapat membawa anak menjadi pribadi yang baik?

Rasulullah SAW contoh terbaik kehidupan manusia berpesan: “Aku tinggalkan untuk kalian dua warisan yang tidak akan membawa kalian tersesat yaitu Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasulillah“

Allah telah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( QS At Tahrim : 6).

Menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah masalah yang harus menjadi prioritas utama dalam membentuk keluarga yang selamat. Keselamatan yang dimaksud tentulah jika orang tua membawa keluarganya memperoleh kebaikan yang didapat selama di dunia dan kebaikan yang Allah berikan di akhirat nanti.

Secara garis besar kesuksesan membangun jiwa dan karakter anak adalah jika orang tua dapat membawa diri dan keluarganya selamat di dunia dan di akhirat. Lalu langkah apa yang harus ditempuh?

[1]Tarbiyatul Awlad fiil islam

By : H Hadi Wiyono SE, Ak

Bersambung