Al-Qur’an Sebagai Obat Penyakit Lahir dan Bathin

Salah satu nama Al-Qur’an adalah Asy-Syifa yang berarti obat penyembuh. Hal ini seperti diutarakan As-Sa’di dalam kitabnya, Tafsir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Manan, bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh bagi semua penyakit hati.

Al-Qur'an-Sebagai-Obat-Penyakit

Dalam surat al-Isra’ ayat 82, Allah Swt berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’: 82)

Baca Juga:
Fasal 61 Rukun Puasa Ramadhan (Kitab Safinah)
Fasal 60 Syarat Wajib Puasa Ramadhan (Kitab Safinah)
Fasal 59 Syarat Sah Puasa (Kitab Safinah)
Fasal 58 Waktu Wajib Puasa Ramadhan (Kitab Safinah)

Pendapat pertama mengartikan obat dalam ayat tersebut sebagai obat yang berkenaan dengan penyakit hati, menghilangkan tirai kebodohan dan menghapus keraguan akan kebesaran tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Pendapat kedua, Al-Qur’an sebagai obat penawar penyakit lahir seperti sakit kepala, infeksi dan lain sebagainya.

Berikut ini beberapa argumen yang menguatkan pendapat kedua.

1. Hadits-hadits Nabi tentang berobat dengan ayat Al-Qur’an
Terdapat sejumlah hadis yang menjelaskan ihwal berobatnya Rasulullah SAW dengan menggunakan ayat Al-Qur’an. Di antaranya hadis riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Nasai, bahwa mula-mula Rasulullah SAW melindungi diri dari segala penyakit dan serangan musuh dengan bacaan Ta’awwudz dan beberapa kalimat dzikir.

Namun setelah turunnya surat Al-Falaq dan An-Nas, beliau mencukupkan dengan kedua surat tersebut dan meninggalkan selainnya. Sahabat Abu Sa’id al-Khudri pernah menyembuhkan seseorang yang terkena sengatan ular dengan bacaan ayat “Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin” sebanyak tujuh kali.

2. Berdasarkan Kaidah Ushuliyyah

Kaidah yang populer di kalangan pakar ushul fiqh mengatakan:

اِنَّ الْكَلَامَ اِذَا احْتَمَلَ التَّأْكِيْدَ أَوِ التَّأْسِيْسَ فَحَمْلُهُ عَلَى الثَّانِيْ أَرْجَحُ

“Pembicaraan apabila memungkinkan mengarah kepada pengukuhan (substansi yang sudah pernah disampaikan) atau mendasari (substansi baru yang belum pernah tersampaikan), maka mengarahkannya kepada yang kedua adalah lebih unggul”.

Dalam konteks ini, mengarahkan QS al-Isra’ ayat 82 kepada obat penyakit lahir lebih utama sebagai informasi baru yang belum pernah disampaikan sebelumnya. Hal ini lebih baik ketimbang mengarahkannya kepada pemahaman al-Qur’an sebagai obat penyakit batin yang sudah banyak dijelaskan ayat-ayat lain.

3. Berdasaran Kaidah Nahwiyyah

Dalam ayat di atas, kata “syifa’; obat” dan “rahmat” dirangkai jadi satu dengan penghubung huruf ‘athaf yakni “wawu (yang secara literal merupakan kata sambung yang bermakna “dan”). Rahmat yang dimaksud dalam ayat mencakup obat dari segala penyakit hati.

Dalam kaidah ilmu nahwu, penggabungan satu kata dengan yang lain dengan penghubung huruf athaf wawu menunjukan perbedaan makna kedua kata tersebut. Bila kata “Rahmat” diartikan obat penyakit batin, seharusnya kata “syifa’, obat” diartikan sebagai obat penyakit lahir, agar keduanya menunjukan arti yang berbeda sebagai pengamalan dari kaidah nahwu di atas.

4. Berdasarkan Kaidah Manthiqiyyah-silogisme
Berdasarkan fakta yang berulang kali teruji kebenarannya dari sejak masa Rasulullah, Sahabat, Tabi’in hingga kurun setelahnya,menunjukan bahwa Al-Qur’an dapat mengobati penyakit racun, gila, luka dan penyakit lahir lainnya.

Dalam disiplin ilmu manthiq dikatakan:

“Sesungguhnya beberapa eksperimen yang telah teruji kebenarannya termasuk jenis berita/proporsi yang berfaidah yakin”.

Ibnu Qayyim dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad, menjelaskan, Al-qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Tidak setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat.

Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kukuh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apa pun tidak akan mampu menghadapinya.

Kepada sahabat yang sakit, Nabi kerap kali berpesan, Bagi kalian ada obat penyembuh, yakni madu dan Alquran. (HR Ibnu Majah dan al-Hakim). Sebagai asy-Syifa, orang beriman diimbau banyak membaca Alquran, karena ia adalah obat penyembuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *